Dikira Pengamen, Ternyata Pra Event Jazz

Suasana berbeda tampak di dalam Pasar Gede Solo, Sabtu (14/9). Hari biasanya hanya para pedagang dan pembeli saja yang ada di sana. Namun kemarin pagi suara iringan musik Jaz sangat jelas terdengar. Lebih unik lagi, para pemain musik Jaz ini tidak tampil dalam panggung, melainkan berbaur menjadi satu dengan para pedagang dan pembeli.

Sajian ini merupakan bagian dari kegiatan Pra Event Solo City Jazz (SCJ), yang menggunakan konsep blusukan pasar. Pada Pra Event tersebut, tampil dua buah band Jaz yakni Jazz Clasicca Concerta (Salatiga) dan Kemlaka Gamelan Jazz (SMKN 8 Solo). Masing-masing grup ini mampu memberikan hiburan tersendiri bagi pengunjung maupun pedagang di Pasar Gede.

Jazz Clasicca Concerta (Salatiga), mendapat kesempatan tampil terlebih dahulu. Mereka lebih memilih menampilkan lagu Campursari, yang mampu diubah menjadi alunan musik Jaz. Beberapa lagu dibawakan seperti Jaranan, Lir-ilir, dan Prau Layar. Grup yang beranggotakan bapak, ibu dan kedua anaknya ini mampu mengajak penonton untuk bergoyang dengan iringan gitar, perkusi, elektrik piano dan berbagi alat musik lainnya. “Setiap kali SCJ diadakan, kami selalu tampil dan kami sangat mendukung konsep pasar karena ini merupakan wujud bahwa musik Jaz tidak hanya dikonsumsi untuk kalangan elite saja, melainkan seluruh masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi tentang musik Jaz,” ujar Joko, pendiri Jazz Clasicca Concerta (Salatiga).

Joko mengakui anggota grupnya merupakan istri dan anaknya karena memang keluarga ini lahir dari seorang pemusik. Ia merupakan seorang guru musik di Salatiga. “Untuk pendidikan musik yang kami berikan, kami hanya memberikan Home Schooling kepada kedua putri kami,” katanya.

Lain lagi dengan Kemlaka Gamelan Jazz (SMKN 8 Solo). Dalam penampilannya grup ini mampu memberikan inovasi. Di mana mampu menggabungkan musik Jazz dengan musik Jawa. Perpaduan ini terlihat kala permainan kendang mampu tersaji apik dengan suara saksopon. Beberapa iringan yang diciptakannya berjudul Susah Senang, Fantastik Ondel-Ondel, lir-ilir dan lainnya.

Penata artistik, Heru Mataya mengatakan  sebenarnya benang merah musik Jazz itu seperti dengan pasar, pasar identik dengan semangat, memberi dan menawarkan. Begitu juga dengan musik Jaz yang selalu memberikan penawaran bagi masyarakat pada umumnya. “Memang konsep pasar ini kami kedepankan, mengingat selama ini anggapan orang bahwa pasar hanya identik dengan musik campursari, keroncong dan musik lainya. Sehingga dengan kehadiran musik Jaz ini mampu memberikan nuansa baru di tengah proses jual beli di pasar,” terang Heru.

Dirinya juga mengakui dalam perhelatan SFC yang akan diadakan akhir bulan ini akan tetap akan menggunakan Pasar Gede, meskipun stage utama di Benteng Vanstenburg. Rencananya, acara ini akan dilangsungkan pada 27-28 September, mendatang.

15 September 2013
(sumber: Koran Joglosemar)